Sudah Benarkah Cara Anda Merawat Tali Pusar Pedet?

sudah benarkah

Kelahiran pedet merupakan momen yang ditunggu setiap peternak. Selain proses persalinan dan pemberian kolostrum, salah satu aspek kritis yang memiliki dampak signifikan terhadap kelangsungan hidup pedet adalah manajemen tali pusar. Tali pusar yang tidak tertangani dengan baik dapat menjadi jalur masuk utama bagi patogen, yang bisa mengakibatkan kondisi infeksi serius.

Infeksi pusar, atau secara teknis disebut omphalitis, merupakan salah satu penyakit paling umum yang menyerang pedet baru lahir. Infeksi ini dapat bersifat lokal (terbatas pada area pusar) atau menyebar secara sistemik ke seluruh tubuh. Jika infeksi menyebar dan menyebabkan sepsis, risiko kematian pedet akan meningkat secara drastis.

Anatomi Tali Pusar

Selama masa kebuntingan, tali pusar berfungsi sebagai jalur penting yang menghubungkan induk dengan janin. Struktur ini terdiri dari arteri umbilikalis, vena umbilikalis, dan urachus (saluran sisa kencing). Ketiga saluran ini bertugas mengalirkan nutrisi, oksigen, dan membuang limbah metabolik.

Setelah pedet lahir dan tali pusar putus, struktur internal tersebut idealnya akan mengerut, menarik diri ke dalam rongga perut, dan mengering secara alami. Proses ini sangat penting untuk menutup akses dari lingkungan eksternal ke dalam tubuh pedet.

Risiko Infeksi Tali Pusar

Masalah timbul ketika sisa tali pusar eksternal (tunggul pusar) terpapar lingkungan yang kotor, terutama di kandang bersalin yang tidak higienis. Bakteri dapat masuk dan menyebabkan infeksi seperti omphalophlebitis (infeksi vena), omphaloarteritis (infeksi arteri), omphalourachitis (infeksi sisa saluran kencing/urachus). Infeksi ini tidak hanya menyebabkan peradangan lokal, tetapi juga dapat melemahkan dinding perut di sekitarnya, sehingga membentuk hernia umbilikalis (bodong).

Pencegahan: Peran Antiseptik

Manajemen tali pusar yang efektif berfokus pada kebersihan area melahirkan, pemberian kolostrum yang tepat (untuk imunitas), dan aplikasi antiseptik pada tali pusar. Pembahasan kali ini akan difokuskan pada penggunaan antiseptik.

Tujuan utama dari pencelupan pusar (navel dipping) adalah membunuh bakteri, virus, dan spora yang ada. Pencelupan pusar juga berkontribusi menciptakan penghalang sementara terhadap patogen lingkungan serta mendorong tunggul pusar agar lebih cepat kering dan menutup. Dengan perawatan yang tepat, sisa tali pusar rata-rata akan mengering dalam 2 hari dan sepenuhnya kering pada hari ke-5, menutup pintu infeksi secara efektif.

Memilih Antiseptik yang Tepat: Yodium vs. Klorheksidin

Meskipun banyak penelitian tidak menemukan perbedaan statistik yang signifikan dalam pencegahan infeksi antara berbagai antiseptik, pemahaman mengenai karakteristik masing-masing senyawa tetap penting.

  1. Yodium (Iodine)

Larutan yodium tinktur 7% secara tradisional dianggap sebagai "standar emas" dalam perawatan tali pusar. Kelebihan laruan ini bersifat bakterisidal, sporosidal, dan virusidal yang kuat. Penambahan alkohol dalam formula tinktur juga membantu mempercepat pengeringan (desikasi) tali pusar.

Namun, efektivitas yodium dapat berkurang atau ternetralisir oleh materi organik (kotoran, darah). Yodium juga dapat menyebabkan iritasi kulit sehingga di beberapa negara memberlakukan kebijakan larutan dengan konsentrasi tinggi (>2.2%) dibatasi penggunaannya.

  • Klorheksidin (Chlorhexidine - CHX)

CHX (sering dalam konsentrasi 2% atau 4%) adalah alternatif yang umum direkomendasikan. Larutan ini memiliki kelebihan berupa spektrum aksi yang luas, durasi kerja yang panjang (aktivitas residual), dan efikasinya tetap tinggi meskipun terdapat materi organik.

Namun, beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa CHX berpotensi sedikit menghambat atau memperlambat proses pengeringan dan pelepasan tunggul tali pusar.

Waktu, Frekuensi, dan Teknik Aplikasi Larutan Desinfeksi Pusar

Keberhasilan perawatan tali pusar tidak hanya bergantung pada apa yang digunakan, tetapi juga bagaimana dan kapan antiseptik diaplikasikan.

  1. Waktu dan Frekuensi

Aplikasi harus dilakukan sesegera mungkin setelah lahir. Meskipun studi tidak menemukan korelasi kuat antara waktu spesifik aplikasi pertama dengan kejadian omphalitis, tetapi pedet yang lahir tanpa teramati (misalnya malam hari) cenderung memiliki paparan lebih lama ke lingkungan kotor sebelum ditangani.

Aplikasi berulang lebih baik daripada aplikasi tunggal. Studi menunjukkan bahwa pedet yang dicelup dua kali (misalnya, saat lahir dan 24 jam kemudian) memiliki risiko omphalitis 44% lebih rendah dibandingkan dengan aplikasi tunggal. Hal ini penting, terutama jika menggunakan yodium yang mudah ternetralisir oleh kotoran. Yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah penggunaan antiseptik yang terlalu sering atau pekat justru dapat menyebabkan iritasi kulit di sekitar pusar, yang dapat memperlambat proses penyembuhan.

  • Teknik Aplikasi

Metode Umum: Metode yang paling umum adalah penyemprotan (spraying) dan pencelupan (dipping). Meskipun tidak ada perbedaan signifikan yang dilaporkan di antara keduanya, penyemprotan memiliki risiko melewatkan beberapa bagian pusar, sehingga efektivitasnya berkurang.

Praktik yang terbukti paling efektif adalah memberikan sediaan antiseptik langsung ke dalam sisa tali pusar (jika struktur anatominya memungkinkan). Teknik ini terbukti mengurangi risiko omphalitis hingga 62% dibandingkan tanpa perawatan. Namun, perlu dipastikan hanya menggunakansediaan yang diizinkan untuk menghindari iritasi internal.

Kebersihan Lingkungan dan Praktik Peternak

Antiseptik secanggih apa pun tidak akan mampu mengatasi beban patogen yang sangat tinggi di lingkungan yang kotor. Karena itu, kebersihan menjadi prioritas utama. Kebersihan kandang persalinan dan area pemeliharaan pedet adalah faktor risiko utama. Jika kebersihan kandang buruk, perawatan tali pusar saja tidak akan cukup.

Ada sebuah temuan menarik yang menunjukkan bahwa peternak yang mengenakan sarung tangan saat melakukan perawatan pusar justru cenderung memiliki insiden omphalitis yang sedikit lebih tinggi. Hal ini bukan berarti sarung tangan berbahaya, tetapi diduga terjadi karena kontaminasi silang. Pekerja mungkin menggunakan sarung tangan yang sama setelah memegang peralatan kotor atau sapi lain, lalu menyentuh tali pusar pedet (rasa aman yang salah). Karena itu, jika menggunakan sarung tangan, sebaiknya harus dijaga kebersihannya untuk mencegah penularan patogen antara pekerja dan pedet.

Sumber:

  • Calving assistance influences the occurrence of umbilical cord pathologies treated surgically in calves.
  • Navel healing in male and female Holstein calves over the first 14 days of life: A longitudinal cohort study.
  • Neonatal Morbidity and Mortality of 31 Calves Derived from Somatic Cloning.
  • Short communication: The effect of novel antiseptic compounds on umbilical cord healing and incidence of infection in dairy calves.
  • The influence of 3 different navel dips on calf health, growth performance, and umbilical infection assessed by clinical and ultrasonographic examination.
  • Field study on routine procedures for navel care in neonatal calves on dairy farms in Eastern Germany.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *